Senin, 13 Juli 2015

EARTH 2.0

Earth 2.0
            Bumi merupakan planet ketiga dari matahari yang terletak di galaksi Bimasakti. Hingga saat ini Bumi menjadi satu-satunya planet di galaksi yang memungkinkan kita sebagai manusia untuk hidup dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini disebabkan karena planet Bumi memiliki karakteristik yang memungkinkan manusia hidup, diantaranya ialah ukuran planet/satelit, kandungan senyawa pada atmosfer, ketersediaan air, kadar asam, suhu, dan sebaginya . Bumi yang sudah berusia sekitar 4,54 miliar tahun, tergolong cukup tua dan mulai mengalami penurunan kemampuan dalam menyediakan berbagai kebutuhan manusia. Disamping itu peningkatan jumlah manusia yang menyebabkan kerusakan dan kurangnya lahan di muka Bumi ini. Hal inilah yang memicu para ilmuan untuk menemukan tempat baru yang dapat dijadikan tempat peradaban manusia yang baru, atau dapat diatakan sebagai “Earth 2.0”.
            Menemukan lokasi ekstraterestrial yang memiliki karateristik yang sama dengan Bumi sehingga dapat dijadikan tempat tinggal baru untuk manusia tidaklah mudah. Salah satu tempat yang memiliki karakteristik sebagai Earth 2.0 ialah Europa. Europa adalah bulan terkecil yang dimiliki oleh planet Jupiter. Europa ditemukan oleh Galileo Galilei pada tahun 1610. Jarak Europa dari matahari ialah 780,000,000 km dengan massa 4.8x1022 kg. Permukaan Europa tersusun atas lapisan air es. Beberapa data juga membuktikan bahwa Europa memiliki lapisan dalam yang terdiri atas inti metalik. Kandungan inti dalam Europa sagat kaya akan silikat sehingga memungkinkan mikroba dan bakteri multisel lainnya untuk hidup dan memungkinkan untuk memulai adanya kehidupan organisme lain di masa yang akan datang.
Europa juga mengalami gaya magnetic yang disebabkan karena adanya interaksi dengan planet Jupiter. Adanya gaya magnetik ini menyebabkan lapisan dibawah permukaan air tetap hangat karena terjadi pasang surut yang dapat menjaga suhu. Kehidupan dibawah permukaan laut Europa memiliki kesamaan dengan kehidupan mikroba di laut dalam yang ada di bumi, yang dapat ditemukan di wilayah hydrothermal vent.
Berdasarkan pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble, Europa memiliki atmosfer yang sangat tipis (1e-11 bar) yang tersusun atas oksigen. Kandungan oksigen pada atmosfer Europa terbentuk dari sinar matahari yang mengakibatkan pemisahan senyawa air menjadi atom hydrogen dan oksigen, dimana hydrogen akan meninggalkan atom oksigen. Atom okigen inilah yang membentuk lapisan pada atmosfer Europa.  Meskipun tersusun atas oksigen, lapisan atmosfer dari Europa masih belum dapat membentuk lapisan ozon seperti di Bumi hal ini disebabkan karena kandungan dari beberapa senyawa yang tidak ditemukan pada lapisan atmosfer di Europa.

Meskipun sudah ditemukan beberapa bukti adanya kehidupan mikroba di Europa namun, satelit ini masih belum dapat dijadikan tempat peradaban bagi manusia. Sekarang ini keadaan lingkungan Europa masih belum menunjang kehidupan manusia, sehingga masih terus dilakukan penelitian dari NASA untuk mengeksplor adanya kemungkinan siklus lingkungan Europa yang nantinya di masa depan dapat menjadi tempat peradaban manusia dan organisme lain sehingga Europa dapat diklaim sebagai “Earth 2.0”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar